Maulana Rizki, Mahasiswa Aceh Pertama Raih Cumlaude

No comment 107 views


banner 160x600
Women face

FAKTAACEH.COM, Kairo - Maulana Rizki (21) menorehkan sejarah besar dalam sejarah studi mahasiswa Indonesia di Universitas Al Azhar. Universitas Islam tertua di dunia ini menganugerahkan nilai Mumtaz (cumlaude) kepada Rizki atas capaian hasil belajarnya pada Fakultas Syariah Islamiah. Hasil yang digapai Rizki terbilang langka, bahkan belum ada satu pun anak Aceh yang memperoleh nilai serupa pada Fakultas Syariah.
 
 
Alumni Pesantren Modern Omar Diyan tahun 2015 ini meraih prediket cumlaude setelah melewati ujian dari 12 guru besar di bidang studi masing-masing pada ujian pertengahan dan akhir tahun jadwal perkuliahan. Mata kuliah yang diikuti seperti, Al Quran, Tauhid, Fikih Syafii, Sejarah Fikih, Tafsir Ahkam, Ulumul Hadis, Fikih Kontemporer, Ushul Fikih dan lain lain. Semua mahasiswa harus melewati Ujian Lisan dan Tulisan. Semua nilai mata kuliah yang diikuti sebagaimana biasa baru diumumkan sekitar bulan Agustus setiap tahunnya.
 
Mahasiswa kelahiran Idie Rayeuk 28 November 1996 merupakan mahasiswa Tingkat I Fakultas Syariah Islamiyah yang berpusat di Darrasah, Kota Kairo. Anak dari pasangan Muslim dan Muslina ini patut menjadi teladan bagi remaja yang lain. Kesungguhan dan semangat belajarnya yang tiada henti sudah dimulai sejak bangku Tsanawiyah. Hampir tiada hari yang dilewati kecuali bersama buku.
 
Saat ini, orang tua Rizki merupakan pedagang. Mereka tinggal di kemukiman Pagar Air, Lambaro. Di tengah kondisi ekonomi yang terbilang tidak terlalu mewah, Rizki justeru mampu tampil ke puncak dengan kesuksesasannya.
 
Rizki pertama sekali tidak menyangka bisa dapat nilai istimewa. “Saya sadar betul kesulitan belajar di Al Azhar. Bisa lulus saja saya sudah merasa senang, Karena ketika ujian saya sempat menderita sakit,” pengakuan Rizki ketika ditanya tentang hasil ujiannya. Rabu (23/08/2017).
 
Namun Rizki tak besar kepala. Ia malah mengaku nilai yang telah diperoleh adalah cobaan dari Allah. “Saya mohon doa, semoga nilai saya seimbang dengan amalannya,” sambung Rizki.
 
Biaya hidup dengan harga barang yang terus melonjak tak menghalangi semangat Rizki. Baginya menjadi seorang  pelajar memang harus siap hidup prihatin. Maka walaupun tak memiliki beasiswa, Rizki memantapkan hati untuk terus menuntut ilmu di bumi Seribu Menara ini.
 
Walaupun harus duduk di kelas persiapan bahasa setahun, Rizki siap menempuhnya. Bahkan kemudian diakuinya sebagai hal yang sangat membantu untuk memahami diktat. Karena sudah matang Bahasa Arabnya.
 
Ketua Ikatan Alumni Timur Tengah (IKAT) Aceh, Tgk. H. Muhammad Fadhil Rahmi menyampaikan apresiasi yang tinggi atas keberhasilan Maulana Rizki. Bahkan beliau tidak mengingat ada orang Indonesia sebelumnya yang pernah mendapat nilai serupa.
 
Menurut Fadhil, walaupun siap hidup prihatin, namun tanggung jawab pemerintah untuk menjamin keberlangsungan pendidikan masyarakatnya. Kita berharap baik pemerintah kabupaten/kota atau Pemerintah Aceh harus memberikan perhatian kepada seluruh mahasiswa yang berada di  dalam maupun luar negeri, khususnya yang memiliki prestasi lebih.
 
“Mereka adalah duta Aceh di kancah internasional, hasil yang mereka gapai telah mengharumkan nama Indonesia dan Aceh,” lanjut Ketua IKAT dua periode ini.
 
Lebih lanjut, Fadhil menyebutkan bahwa saat ini, untuk jenjang Sarjana, beberapa daerah sudah komit untuk memberikan beasiswa bagi calon mahasiswa ke Timur Tengah. Pemerintah Kabupaten Aceh Tenggara malah bekerjasama dengan IKAT untuk menyeleksi 10 calon mahasiswa terbaik yang akan menuntut ilmu ke Al Azhar.
 
“Minggu yang lalu kita bertemu dengan Bupati Abdya, Akmal Ibrahim, beliau juga berkomitmen untuk memberikan beasiswa kepada calon mahasiswa pilihan yang mau memperdalam ilmu agama di Timur Tengah. Semoga terealisasi,” sambung Fadhil Rahmi.
 
Fadhil mengharap bahwa selayaknya semua Kabupaten/kota punya program beasiswa pendidikan bagi anak-anak yang mau fokus ke pendidikan agama. Ini menurutnya untuk mendukung proses pelaksanaan Syariat Islam ke depan. Tentu dengan banyaknya kader agama yang mumpuni dan dengan segenap integritas, mereka akan mampu membawa paradigma keagamaan yang baik nantinya []